Sabtu, Juni 19, 2021

Kajari Makale Mediasi Pemda Torut dan Penyewa Pertokoan Rantepao

Liputan

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Bom Gereja Katedral Makassar Meledak Usai Ibadah Minggu Palma

MAKASSAR, MEOLI.CO - Ledakan diduga bom bunuh diri terjadi di gerbang Gereja Katolik Katedral Makassar, Minggu, 28 Maret 2021,...

Terjerat Utang Ratusan Miliar, Pemprov Sulsel Tetap Alokasikan Bantuan Keuangan Daerah

SOPPENG, MEOLI.CO - Meski terjerat utang ratusan miliar, Pemprov Sulsel akan tetap mengalokasikan anggaran untuk bantuan keuangan daerah tahun...
- UKI Toraja -

TANA TORAJA, MEOLI.CO – Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Toraja Utara (Torut) menggelar rapat koordinasi/mediasi rencana penataan dan pembangunan pertokoan Rantepao, antara Pemerintah Daerah (Pemda) Torut dengan pihak pengusaha/penyewa pertokoan Rantepao. Rakor yang digelar di Aula Sasana Wicaksana Kejari Makale, dipimpin langsung Kepala Kejaksaan Negeri Tana Toraja, Jefri P Makapedua.

Jefri mengatakan, rakor yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan solusi penyelesaian terkait permasalahan penertiban bangunan pertokoan Rantepao.

“Pada kesempatan ini tentu kami semua disini mencoba mencari solusi penyelesaian permasalahan agar bisa diselesaikan secara musyawarah mufakat,” ujarnya.

Jefri mengungkapkan, pihaknya sebagai mediator kedua pihak yakni pemerintah dan penyewa pertokoan, sebelum ada yang mengambil langkah hukum di awal.

Sementara, Bupati Torut, Kalatiku Paembonan, mengatakan, keputusan untuk melakukan tindakan penertiban pertokoan, demi meningkatkan kegiatan pembangunan di Torut.

“Kita tahu bahwa bangunan itu adalah bangunan Pemda yang memiliki batas untuk penyewa, dan setelahnya itu Pemda bisa mengubah, demi menciptakan keindahan, kesejukan dan keteraturan pembangunan agar dapat dinikmati semua orang,” ucap Kalatiku.

Pertemuan kekeluargaan tersebut, lanjut Kalatiku, tetap mendahulukan mediasi untuk mempelajari faktor yang menjadi landasan dalam penyelesaian permasalahan tersebut.

“Kami dari Pemda sungguh senang sekali bahwa langkah-langkah menuju kemajuan itu sudah lebih nyata, dimana beberapa faktor yang menjadi landasan dalam penyelesaian akhir sudah ditemukan bersama. Seperti kepemilikan status pemakai di pertokoan, dimana pemakai atau penyewa hanya memiliki batas waktu 30 tahun menyewa dan membayar sesuai kesepakatan mereka di awal. Dan sekarang masanya sudah habis, jadi Pemda bisa menertibkan bangunan tersebut,” kunci Kalatiku.

Perwakilan penyewa pertokoan, Julius Yusuf, atas nama seluruh penyewa pertokoan meminta kepada Pemda agar saat ini bangunan pertokoan Rantepao masih dapat digunakan oleh pemilik sampai dilakukannya pembangunan oleh investor yang dimulai dari belakang pertokoan, dan terakhir baru dilakukan pembongkaran pada bangunan pertokoan untuk persiapan pembangunan.

“Apabila pembangunan telah dilakukan di bagian belakang pertokoan dan akan dimulai pada lokasi tempat berdiri bangunan pertokoan, maka kami pemilik dengan suka rela akan meninggalkan dan/atau mengosongkan ruangan pertokoan Rantepao tanpa perlawanan dan tanpa menuntut ganti rugi dari Pemerintah Kabupaten Toraja Utara,” tegasnya.

Jufri juga mengharapkan bila bangunan telah beroperasi atau dapat kembali digunakan, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Toraja Utara bisa menjamin penyewa awal yang harus diprioritaskan dan mengikuti segala ketentuan yang berlaku. (YN/*)

Berita Terbaru

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Mungkin Anda Sukai

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com