Minggu, Juni 20, 2021

Kasus Bunuh Diri Marak di Toraja, Pemerintah Hingga Lintas Stakeholder Harus Turun Tangan

Liputan

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Bom Gereja Katedral Makassar Meledak Usai Ibadah Minggu Palma

MAKASSAR, MEOLI.CO - Ledakan diduga bom bunuh diri terjadi di gerbang Gereja Katolik Katedral Makassar, Minggu, 28 Maret 2021,...

Terjerat Utang Ratusan Miliar, Pemprov Sulsel Tetap Alokasikan Bantuan Keuangan Daerah

SOPPENG, MEOLI.CO - Meski terjerat utang ratusan miliar, Pemprov Sulsel akan tetap mengalokasikan anggaran untuk bantuan keuangan daerah tahun...
- UKI Toraja -

TANA TORAJA, MEOLI.CO – Dua warga Toraja memutuskan untuk gantung diri di awal tahun 2021 ini. RB (18 tahun), berjenis kelamin perempuan, dan laki-laki ES (20 tahun). Peristiwa di awal tahun ini hanya berselang sehari.

Kasus bunuh diri di Toraja memang marak. Sepanjang tahun 2020 lalu, 30 warga Toraja mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidup mereka. 14 kasus terjadi di Tana Toraja, dan 16 kasus di Toraja Utara. Hal ini tentu saja bukan hal biasa, dan membutuhkan perhatian semua pihak. Pemerintah hingga lintas stakeholder harus turun tangan.

Tokoh muda asal Toraja yang juga pengurus KNPI Sulsel, Daming Sampe Seso, mengaku turut prihatin. Apalagi, rata-rata korban merupakan anak muda, yang sejatinya masih memiliki masa depan yang cerah.

Menurutnya, penyebab mereka bunuh diri adalah tekanan psikis, yang tidak bisa mereka kontrol. Kebanyakan, akibat masalah asmara.

Iapun berharap agar anak-anak muda diberi aktivitas kepemudaan, kegiatan agar mereka bisa berinteraksi satu sama lain, agar tidak lagi berpikir melakukan hal-hal yang melenceng.

“Aktivitas pemuda dan interaksi satu sama lain dalam framing pemuda tertentu, sangat kurang. Contohnya, kegiatan-kegiatan kepemudaan kurang, beda yang dulu banyak kegiatan. Jadi ada interaksi satu sama lain, ada kgiatan dan kesibukan pemuda,” kata Daming, Senin, 11 Januari 2021.

Daming pun meminta agar pemerintah, tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan stakeholder lainnya, turut memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Anak muda harus diberi ruang untuk berkreativitas.

“Semua harus turun tangan. Kita tidak boleh diam melihat fenomena ini. Jumlah kasus bunuh diri ini sudah mengkhawatirkan,” ujarnya.

Saran Psikolog

Maraknya aksi bunuh diri di Toraja, juga menjadi keprihatinan Andi Tajuddin, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar. Ia menilai, kasus yang terjadi bukanlah hal yang lumrah dan tentunya harus diperhatikan dengan baik.

“Kasus yang terjadi di Toraja sudah menjadi kejadian luar biasa dan semua pihak harus tanggap masalah ini,” katanya.

Ia menjelaskan, respon seseorang terhadap persoalan yang dialami dalam hidupnya sangat tergantung pada kekuatan mentalnya untuk menghadapi berbagai masalahnya. Jika yang bersangkutan memiliki mental yang kuat dan sehat, serta memiliki adaptasi psikologi yang baik, tidak masalah.

“Tetapi yang memiliki keterbatasan kemampuan dalam menghadapi atau menyesuaikan diri terhadap berbagai persoalannya, ini yang rentan dan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan psikologis,” terangnya.

Dikatakan, peristiwa bunuh diri yang sering terjadi merupakan kenyataan sosial. Pemicunya boleh jadi karena depresi, perilaku bullying, khawatir yang berlebihan, atau merasa hidupnya sudah tidak berarti apa-apa. Sehingga, berupaya mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang tidak wajar atau disengaja.

“Hubungan asmara dan keluarga yang tidak sehat sering menjadi pemicu munculnya hambatan psikologis seseorang untuk melakukan adaptasi mental,” tuturnya.

Jika hal ini berlarut-larut, tidak kunjung selesai dan menjadi akut, bisa berpotensi mengarahkan yang bersangkutan mengakhiri hidup dengan cara yang tidak wajar.

Ada beberapa hal yang minimal sebagai langkah untuk menghindari munculnya niat seseorang bunuh diri. Seperti membangun komunikasi yang baik dalam lingkungan keluarga dan sekitarnya. Mendorong individu yang mengalami masalah secara terbuka dan suka rela mengutarakan setiap masalahnya, dan bagi keluarga lainnya  hindari perilaku menghakimi, kemudian  perlihatkan perilaku empati.

Tanggap dan solutif terhadap masalah yang dialami anggota keluarga.
Secara khusus dibutuhkan penanganan secara serius dengan pemberian edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

“Pentingnya sosialisasi promosi kesehatan jiwa atau mental kepada masyarakat di  Toraja Utara dan Tana Toraja, sangat perlu untuk dilaksanakan atau ditingkatkan serta dimaksimalkan,” tuturnya. (*)

 

Berita Terbaru

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Mungkin Anda Sukai

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com