Jumat, September 17, 2021

Lagi dan Lagi, Warga Toraja Akhiri Hidup dengan Gantung Diri

Liputan

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Bom Gereja Katedral Makassar Meledak Usai Ibadah Minggu Palma

MAKASSAR, MEOLI.CO - Ledakan diduga bom bunuh diri terjadi di gerbang Gereja Katolik Katedral Makassar, Minggu, 28 Maret 2021,...

Terjerat Utang Ratusan Miliar, Pemprov Sulsel Tetap Alokasikan Bantuan Keuangan Daerah

SOPPENG, MEOLI.CO - Meski terjerat utang ratusan miliar, Pemprov Sulsel akan tetap mengalokasikan anggaran untuk bantuan keuangan daerah tahun...
- UKI Toraja -

TORAJA UTARA, MEOLI.CO – Belum cukup sepekan setelah dua warga Tana Toraja, RB (18 tahun) dan ES (20 tahun), mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Kini seorang pelajar SMK Pelangi Makale, DN (18 tahun), juga memilih jalan yang sama.

DN gantung diri menggunakan dasi di pintu kamarnya, di Dusun Sangpolo, Lembang Batu Lotong, Kecamatan Awan Rante Karua, Toraja Utara, Rabu, 13 Januari 2021. Ibunda DN, Mardayanti Tungo’, menuturkan, sekitar pukul 08.00 WITA, sang anak pamitan untuk berangkat ke Makale, dengan maksud untuk sekolah dengan menggunakan motor. Namun beberapa saat kemudian, korban kembali dan langsung naik ke atas rumah.

“Pada saat anak saya balik dari sekolah, saya berada di bawah kolong rumah dan menunggu anak saya untuk turun, namun tidak turun. Jadi saya naik ke atas rumah sambil memanggil, namun tidak ada jawaban,” terang Mardayanti.

Saat akan masuk ke dalam rumah, rumahnya dalam keadaan terkunci dari dalam. Ia kemudian langsung berusaha untuk membuka pintu yang terkunci tersebut, dengan cara memanjat jendela.

“Setelah pintu terbuka saya kaget melihat anak saya sudah dalam keadaan tergantung di depan pintu kamarnya. Saya langsung memeluk anak saya sambil menangis,” ucapnya.

Sementara kakak dari DN saat mendengar tangisan ibunya, langsung naik ke atas rumah dan membantu untuk menurunkan korban. Ia memanggil adik korban untuk mengambil pisau dan memotong dasi sekolah yang digunakan oleh korban untuk gantung diri.

Personil Polsek Rindingallo Bhabinkamtibmas Bripka Amos Tonapa, bersama dengan Ps Kanit Reskrim Bripka Obaya Kadang, saat mendatangi lokasi, menjelaskan, menurut keterangan dari keluarga bahwa korban memang pendiam dan cenderung penyendiri.

Pihak keluarga juga menolak untuk dilakukan autopsi. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban dan keluarga sudah menerima dengan ikhlas kematian korban. (*)

Berita Terbaru

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Mungkin Anda Sukai

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com