Minggu, September 19, 2021

Tak Direstui Merantau ke Jepang, Kini Sukses di Birokrasi

Liputan

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Bom Gereja Katedral Makassar Meledak Usai Ibadah Minggu Palma

MAKASSAR, MEOLI.CO - Ledakan diduga bom bunuh diri terjadi di gerbang Gereja Katolik Katedral Makassar, Minggu, 28 Maret 2021,...

Terjerat Utang Ratusan Miliar, Pemprov Sulsel Tetap Alokasikan Bantuan Keuangan Daerah

SOPPENG, MEOLI.CO - Meski terjerat utang ratusan miliar, Pemprov Sulsel akan tetap mengalokasikan anggaran untuk bantuan keuangan daerah tahun...
- UKI Toraja -

Setiap orang memiliki takdir dari garis tangannya masing-masing. Siapa sangka, Amson Padolo, lelaki asal Mangkendek, Tana toraja, yang dulunya sempat berkeinginan mengadu nasib ke Jepang, kini malah sukses menjalani kariernya sebagai birokrat.

Nama Amson Padolo cukup populer. Saat ini, oleh Gubernur Nurdin Abdullah, ia dipercaya menduduki posisi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sulsel. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, gubernur juga pernah memberikan tanggung jawab sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Toraja Utara.

Karier Amson yang mentereng di birokrasi saat ini, tentu diraih dengan tidak mudah. Ia memulai kariernya dari bawah, sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Golongan II, dan ditempatkan sebagai staf di Biro Umum.

Pria kelahiran Ujungpandang, 13 November 1970 ini, tak segan berbagi cerita mengenai perjalanan kariernya. Setelah menamatkan sekolah lanjutan atas di STM Negeri 2 Makassar, ia mengaku tidak berkeinginan melanjutkan kuliah. Ia beorientasi untuk langsung bisa bekerja. Alasannya, agar bisa hidup mandiri dan lepas dari tanggungan orang tua.

Sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara, dengan profesi orang tua PNS golongan rendah, Amson bertekad untuk tidak membebani orang tua. Ketika sekolah di STM pun, berkat kecerdasannya ia berhasil mendapat beasiswa Supersemar.

Setelah lulus, Amson mengikuti tes untuk magang ke Jepang, dan berhasil lulus. Sayangnya, orang tuanya tidak mengijinkan untuk kerja terlalu jauh. Diapun manut. Ketika ada seleksi CPNS, diapun mendaftar dan lulus pada tahun 1992.

“Ketika itu, Kantor Gubernur Sulsel ini sementara dibangun. Sebagai lulusan STM, saya dipercaya sebagai supervisor peralatan elektronik,” kenangnya.

Sebagai lelaki yang terbiasa kerja keras, karir pria empat anak ini cukup melejit. Belum lama menjadi PNS, dia diberi kepercayaan untuk tugas belajar di Universitas Hasanuddin (Unhas), Jurusan D3 Kehumasan. Kemudian lanjut S1 dan S2 di STIA LAN.

Perlahan tapi pasti, karirnya mulai menanjak. Sebelum menjabat Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Amson pun dipercaya sebagai staf protokol, lima kali menjabat kepala seksi, juga Kepala Bagian Tata Usaha dan Protokol. Sebagai pejabat yang berhubungan dengan kegiatan dan acara Pemprov Sulsel, banyak suka dan duka yang dialami. Dia mengibaratkan protokol itu sebagai PLN. Jika lampu padam, orang akan menyalahkan PLN tanpa mau tahu apa penyebabnya.

“Seperti itulah gambaran kerja-kerja orang protokol. Tapi itu sudah resiko kerja,” kata Amson.

Selain itu, dirinya harus mewakafkan seluruh waktunya untuk pimpinan dan pekerjaan tanpa kenal hari libur. Dan keluarganya harus menerima itu.

“Sukanya, bisa bertemu dengan banyak orang. Menjalin komunikasi dan menambah sahabat. Semakin banyak sahabat, semakin banyak yang dimintai pertimbangan dan nasehat jika menemukan kesulitan,” tuturnya. (*)

 

 

 

Berita Terbaru

Berikut Tujuh Korban Luka Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

MAKASSAR, MEOLI.CO - Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana, mengatakan, ada sekira tujuh orang korban luka akibat ledakan...

Mungkin Anda Sukai

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com